Lalu sunyi
jam berpacu dalam dada
mengekalkan hujan dan debu
di setiap sajadah
Dan matahari pun pecah
berlumpur di wajah semesta
yang dingin menerima tibaku
dari perjalanan jauh
Tak pernah suci dadaku
karena hujan debu begitu setia
maka aku pun terus menerus bercintaan dengan-Mu
untuk sebuah kerinduan
kuhamparkan sajadah panjang
di bumi-Mu yang telanjang
menyatukan suara dan hati
dalam detak waktu-Mu yang pasti
sebab gemuruh bumi
senantiasa mendedah langkah
yang kerap ragu menuju-Mu
Allah, kekalkan!
bumi pun diam berputar
ketika kusampai di mihrab-Mu
hanya laut dalam dada
bernyanyi untuk pantai dan
pasir-pasir
Kurebahkan matahari di pangkuan
lantas pikuk ribuan kota padam. aku
mengaji kesunyian, aku menggali
denyut matahari
Tidurlah tidur di dalam waktu
o ribuan kota yang pikuk!
Kuredamkan gemuruh angin
Dan malam sunyi menafasi nama-Mu
Cahaya cahaya cahaya
Peluklah dadaku
Yang masih setia dengan gelap
Kemudian luluhkan
Sehabis debu terakhir
Tak pernah terbayang debu dalam dada
karena itu aku tak ingin
berhenti khalwat di dalam jam
demi jam yang riuh berputar
Mana angin-Mu
ya Allah?
(dadaku telah sesak oleh debu!)
kurekam burung malam yang
rindu salju. tapi ranting dunia
talah lama patah dibantai beton dan baja
dan ribuan pabrik. aku merekamnya
dalam batin yang pecah
di pemakaman
jamkota kaku. Dan kudengar
arwah pun bertasbih atas nama kefanaan
di sini begitu terang kalam-Mu
mengajarkan nama-nama Abadi
Inilah bahasa-Mu
Alif, ba, ta!
Ya Rabbi, aku ingin belajar membaca semesta
dengan menyebut asma-Mu aku mengaji
rahasia demi rahasia sampai ya
Begitu dekat jarak-Mu
seperti napas dan raga:
aku tak bisa sembunyi
Aku membaca bahasa rahasia-Mu
Aku membaca bahasa sunyi-Mu
Aku membaca bahasa langit-Mu
Aku membaca bahasa tanah-Mu
Aku membaca bahasa api-Mu
Aku membaca bahasa air-Mu
Aku membaca bahasa malaikat-Mu
Aku membaca bahasa nabi-Mu
Aku membaca bahasa kitab-Mu
Aku membaca bahasa manusia-Mu
Aku membaca bahasa hewan-Mu
Tapi tak habis-habis aku membaca-Mu!
di batas pertempuran
tak ada yang kalah tak ada yang menang
tanah telah berhenti membantai
sebab hadiah ini hari ialah kasih-Mu
yang kupungut di setiap sajadah
dunia yang basah oleh tangisku
mengulang-ulang nama-Mu
akhirnya aku lebur juga
hingga namaku hilang …
tinggal kini jasadku
yang Kau tandu
sampai pada puncak pendakian
aku tak berani lagi menaiki tangga-Mu
aku masih gagu ya Rabbi
ayatayat-Mu belum khatam kukaji
#Luring
#Daring
#swapoto
bloggerKP
#Luring
#Daring
#swapoto
bloggerKP