Adalah Juang Astrajingga, pria yang lahir pada bulan Desember 1985 di sudut Timur Jakarta. Ia tumbuh di rumah sederhana dengan lingkungan keluarga pragmatis yang senantiasa mesti tunduk pada rezim Orba dulu. Karena sang paman adalah anggota Lekra, dan sang ayah sering menjadi simpatisan organisasi tersebut, keluarganya mesti terseret-seret dicap komunis. Padahal ia tahu, ayah dan ibunya tidak pernah memilih untuk berada di kiri atau kanan. Keluarganya dianaktirikan negara karena alasan yang tidak jelas.
Ayah yang menunduk di hadapan negara cuma bisa bersikap keras di hadapan anak-anaknya. Ia membentuk karakter Juang menjadi seseorang yang tak boleh cengeng, yang mesti mampu mengambil keputusan, yang menjelang dewasa justru menjadikan Juang balik menentang keras sang ayah atas perbedaan pendapat.
Ana Tidae, adalah segala sesuatu tentang keanggunan dan kenestapaan. Ayahnya menamai anak sematawayangnya dengan nama biologi angsa sewaktu gadis itu lahir pada 23 April 1991. Kelak semasa SMP, Ana membenci namanya yang juga berarti ‘bebek’. Dipanggil dengan sebutan ‘bebek’ sepanjang masa-masanya beranjak remaja bukanlah hal yang mengenakkan untuk dikenang.
Semasa SMA, Ana tumbuh menjelma menjadi gadis yang mampu mencuri banyak hati pemuda. Segala sesuatu yang ada pada fisik ibunya turun pada Ana. Kulitnya yang putih-lembut kekuningan, rambutnya yang tebal bergelombang, hidungnya yang lancip, tubuhnya yang kian tumbuh, semakin mampu menyulut lawan jenis membayangkan yang tidak-tidak.
Menyadari itu, ia tidak serta merta mengandalkan apa yang ada di luar. Ana yang mewarisi otak encer sang ayah, tidak pernah berminat ikut lomba ajang kecantikan. Piala yang ia banggakan di kamarnya adalah saat ia menjadi juara dua lomba fisika se-Indonesia. Itu adalah Sedikit Review Dari saya.
Berikut adalah Quotes yang ada dibuku Konspirasi Alam Semesta :
1. Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. (Bab Kau)
2. Namun "rasa" memang punya jalannya sendiri. Ia tak serta-merta hadir untuk diutarakan. Kadang "rasa" hanya untuk dinikmati dalam kesendirian, dengan setumpuk harapan. (Bab Konspirasi Alam Semesta)
3. Senja memang membawa kita menuju kegelapan. Tapi, kalau kita tahu cara bersyukur, banyak bintang dalam gelap yang menunggu untuk kita nikmati."
(Bab Kau)
4. Dan impian bukan sesuatu hal yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.
(Bab Juara Kedua)
5. "Hidup itu sederhana, manusianya saja yang rumit."
(Bab Kau)
6. Aku ingin memelukmu sekali lagi, membalas kecemburuanku pada angin yang bisa sewaktu-waktu memelukmu.
(Bab Lembayung)
7. Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah. Bentangan kilometer, untukmu, akan kutempuh. Engkau adalah rumah, tempat yang paling indah.
(Bab Rumah, lirik lagu)
8. "Masa lalu sepahit apa pun itu, bukanlah untuk dilupakan, melainkan untuk diingat dengan persepsi yang tidak menyakitkan."
(Bab Juara Kedua)
9. Kamu melengkapi aku. Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba.
(Bab Hingga Napas Ini Habis)
10. Mencintaimu, merupakan kejutan terindah yang pernah kehidupan berikan padaku. Dicintaimu, merupakan bingkisan yang lebih indah.
(Bab Lembayung)
11. Dan suatu wajah itu muncul di malamku, diam di sela-sela berlian yang bertaburan di lautan angkasa. Dari kejauhan dapat kulihat ia tersenyum, mengatakan bahwa ia akan selalu menungguku pulang untuk mengecup keningnya. Membuatku sadar: cintanya yang seluas samudera telah menuntunku pada ujung pengasingan.
(Bab Telapak Kaki)
12. "Kita berdua jauh dari sempurna. Bukankah ketidaksempurnaan kitalah yang bikin kita berdua saling menyempurnakan?"
(Bab Tanpa Karena)
13. "Jauh" adalah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. Di saat yang sama, "jauh" juga menjadi hal yang menakutkan bila itu terkait denganmu. Tapi aku berterima kasih pada "jauh". Karenanya, aku tahu bahwa aku merindukanmu. Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.
(Bab Bandung)
14. Rasa ini tak kenal kadaluwarsa. Tak perlu selamanya, cukup sampai ujung usia.
(Bab Tanpa Karena, lirik lagu)''
#bung Fiersa Besari
#KonspirasiAlamSemesta
#iqbalhamzahfanshuri